Konten [Tampil]

Hai sobat, sepertinya kumpulan cerpen Jangan Sisakan Nasi dalam Piring akan menjadi review buku mengenai makanan pertama dalam blog ini. Judulnya saja sudah mengernyitkan kening tentang apakah ini?
Saya menemukan buku ini gara-gara teman di grup baca buku merekomendasikan. Saya pun tidak tahu siapa penulisnya. Ternyata beliau terkenal pada jamannya. Kira-kira tahun 90’an karya beliau terkenal dan banyak penggemarnya. Nama penanya Kembangmanggis. Nama yang unik kan sobat?
Baiklah kita lanjut pada pembahasan kumcer ini.
Ulasan Jangan Sisakan Nasi dalam Piring
Kumcer ini berisikan 23 judul. Tema yang diangkat berbeda-beda. Secara keseluruhan berkisah di wilayah Bali terutama di Ubud. Bercerita tentang kejadian-kejadian sederhana yang dialami penulis. Baik bersama dua anak perempuannya, tetangganya, penjual kudapan di Ubud dan hewan-hewan yang mereka temui.
Mereka tinggal di studio yang disewa untuk menginap dan bekerja. Kadang ada temannya untuk berliburan atau saudara-saudara penulis. Dua anaknya pun suka sekali menghabiskan liburan sekolah di Ubud.
Misalnya cerpen berjudul Bu Klengis. Dia adalah seorang yang berjualan makanan yang disebut klengis. Seperti pepes yang dibungkus daun pisang, isinya adalah kelapa santan sisa dari pembuatan minyak kelapa. Diberi bumbu genep khas Bali.Bu Klengis ini orangnya galak dan suka mengeluh. Anjing putihnya suka menghabiskan makanan yang ada di baskom depan studio. Hal yang tidak disukai adalah sikap Bu Klengis yang kelihatannya tidak ramah. Harga klengis dan minyak kelapanya pun mahal. Meskipun barangnya enak dan kualitasnya bagus.
Suatu hari penulis jalan-jalan di dekat Monkey Forest dan hampir tersesat menemukan gubuk kecil di tengah hutan. Melihat seseorang yang sedang membakar kayu ternyata itu adalah Bu Klengis. Hidup berdua dengan suaminya yang sakit, tanpa sumber air dan miskin.
Cerpen judul bukunya sendiri Jangan Sisakan Nasi dalam Piringmu adalah peringatan dari orang tua untuk anak agar menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Sayangnya wejangan ini sudah tidak berlaku bagi orang-orang sekarang. Karena perekonomian sudah membaik, mudah mencari nasi. Memasak nasi pun sudah mudah tinggal pencet saja.
Di cerpen ini memperlihatkan perjuangan para petani dan ibu-ibu pencari sisa gabah bekas panen. Proses untuk menjadi sebulir beras tidaklah mudah. Harus menggarap sawah menjadi siap tanam, menanam padi yang tidak hanya tanam saja. Memanen padi seharian penuh, berpeluh keringat dan menantang teriknya matahari.
Bahkan setelah petani pulang masih saja ada yang mencari gabah hanya uintuk mendapatkan beras yang cukup untuk beberapa kali makan. Mereka adalah ibu-ibu gigih yang mencari gabah sampai petang hari.
Judul lainnya adalah :
Petani Tua dan Bebeknya, menceritakan bagaimana cara berternak bebek ala pedesaan dan bagaiman lukisan keindahan sawah beserta petani bebeknya bisa dihargai mahal. Pelukisnya tersohor tapi petaninya masih hidup dengan sederhana.
Telur Bebek Fresh
Dokter Bebek
Sate Pusuk
Tersasar-sasar
Bapak Nangka
Roti Pagi
Panen
Tambah Separo
Harum Limau
Jajan Bali
Namanya Chiro
Part Time Lover
Sang Pecalang
Pak Edi yang Baik Hati
Obsesi Pak Edi
Proyek Bebek
Telur Hidup
Anak-anak Pak Jumu
Monyet-monyet Monkey Forest
Selamat Natal
Data Buku
Judul : Jangan Sisakan Nasi dalam Piringmu
Penulis : Kembangmanggis
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2018
Jumlah halaman: 224
Ilustrasi : Anggit Bestari
Sumber ebook Gramedia Digital
Hal yang Saya Sukai
Bagaimana penulis memberikan arti sebuah kejadian yang sederhana bahkan tak terlintas oleh orang lain. Memberikan pemahaman yang mendalam untuk pembaca akan arti kejadian-kejadian di sekitar kita. Misalnya bagaimana penulis melihat pemikiran Pak Jumu dalam judul dokter bebek, bahwa mereka percaya ada saja bebek yang akan mati. Tapi ditepis penulis dengan memberikan pengobatan pada bebek yang terluka kakinya.
Mengajarkan pembaca dengan cara dirinya tersadar selama ini tidak banyak mengetahui. Tidak menggurui pembaca untuk seperti ini dan seperti itu. Seperti kejadian Bu Klengis, menyadari bahwa klengis dan minyak kelapanya dijual mahal karena ia adalah tulang punggung keluarganya. Membuat dirinya tersadar bahwa penjual berhak mematok harga dan sekaligus membantu Bu Klengis.
Memahami bahwa hidup di desa adalah hidup berkesinambungan dengan alam. Seperti Pak Jumu memperlihatkan pada penulis bagaimana caranya agar telur bebek cepat menetas dan bisa melihat ada urat-urat hidup dalam bebek.
Melihat perubahan Bali yang menyebabkan berkurangnya lahan pertanian di dekat Mongkey Forest. Bertumbuhnya gedung-gedung baik penginapan maupun hotel. Waktu Pak Jumu tiap pagi mendaptakan sisa roti yang masih bagus-basus. Sampai akhirnya roti sisa tidak boleh diambil lagi.
Penutup
Saya rekomedasikan kumcer ini untuk semua orang. Terutama orang-orang yang suka menyisakan makanan dalam piringnya. Membaca kumcer ini bisa memberikan arti keselarasan hidup, menghargai perjuangan orang lain dan mensyukuri keadaan dengan berbagai yang bisa dibagi. Kumcer Jangan Sisakan Nasi dalam Piringmu menegaskan buat saya menghargai perjuangan orang-orang yang telah menghasilkan sajian di piring saya.



Mba Ovie, kebetulan banget aku lagi kangeennn baca buku fisik :D
ReplyDeleteSepertinya kumcer ini bisa jadi pilihan.
apalagi, Membaca kumcer ini bisa memberikan arti keselarasan hidup, menghargai perjuangan orang lain dan mensyukuri keadaan dengan berbagai yang bisa dibagi.
Bagus sekali judul dan lesson learned dari buku ini. Seringkali kiniorang menyisakan makanan di piring...Padahal perjuangan untuk mendapatkannya bagi orang lain sungguh berat rasanya.
ReplyDeletePenasaran dengan buku berlatar tempat Bali, mengingat saya pernah tinggal 8 tahun di sana tentu familiar dengan banyak istilah dan budayanya
Nampaknya aku HARUS BACA buku ini. Agar aku tersadar tidak sering membuang nasi. Kadang anak makan tidak habis, lgs dituang ke tong sampah, aku makan nggak habis, ditinggal dn ujung-ujungnya dibuang ke tong sampah.
ReplyDeletePadahal suamiku pernah berpesan, nasi terakhir adalah berkah dik. Jadi jangan kamu buang. Tapi ya gitu, ngeyel.com akunya.
Di shopee buku ini ada kali ya Mbak?
Suka banget dengan cara Ovie nge-review, renyah banget
ReplyDeletebikin pingin baca juga, ada di Ipusnas ya?
awalnya saat baca judul artikel ini aku kira mau nulis tentang sampah makanan
ReplyDeleteternyata review buku, wah menarik banget kisah kisah yg diceritakan dalam buku ini ya mbak
Dilihat dari cover bukunya, sudah terasa banget aura buku ini. Sederhana namun penuh makna. jadi inget video yang pernah ku tonton kemarin. gimana sulitnya perjuangan para petani, peternak dan nelayan berjuang untuk mengisi piring kita.
ReplyDeleteAq salah fokus awalnya kak, aq pikir mau cerita tentang filosofi nggak boleh nyisain nasi saat makan ternyata tulisan ini berisi review buku. Jadi penasaran nih kak pengen baca sampe kelar bukunya
ReplyDeleteWow, buku ini mengajarkan kita tentang makna hidup dan mensyukuri. Tidak mengajari namun dengan memberikan contoh sehingga pembaca bisa memahami isi ceritanya. Aku tuh selalu berusahaaaaa setiap makan ga menyisakan nasi, begitu juga aku nasihati anak2ku. Menghargai petani, mensyukuri nikmat Allah dan belajar berjuang secara ekonomi.
ReplyDeleteMemilih cerpen "Jangan Sisakan Nasi dalam Piring" saja sudah menjadi pilihan yang paling tepat. Rasanya mata kita langsung tertuju ke tulisan itu dan imajinasi merambah langsung ke otak. Memangnya ada yang suka nggak menghabiskan nasi? Memangnya ada yang suka membuang nasi? Memangnya kenapa kalau membuang nasi?
ReplyDeleteAh, suka ada kumpulan cerpen seperti ini. Kita kadang butuh sekali masukan dan nasihat dari kehidupan di sekeliling yang kadang nggak peka untuk kita sadari.
Terus berkarya, tulisannya bagus dan bahasa mudah dimengerti tidak berat.
ReplyDeleteWah saya setuju dengan tulisan di atas. Saya ini termasuk orang yang suka ngocehin teman kantor pas makan di kantin tapi banyak makanan sisa di piring. Sampe kalo mereka makan di dekat saya jadi agak sungkan...hehe... terserahlah, yang penting saya mengajarkan mereka pada hal-hal kebaikan...
ReplyDeleteDari judulnya saja sudah bikin penasaran. Saya suka buku-buku yang sarat pesan moral seperti ini.
ReplyDeleteJangan sisakan nasi dalam piringmu, buku lama ya mbak. Dan sekarang lagi trend nih kampanye untuk meminimalisir sampah makanan. Jadi memang ini topik yang terus relevan ya.
ReplyDeleteDi satu sisi ada yang harus susah payah untuk mendapatkan sesuap nasi, tapi di sisi lain ada yang masih suka membuang makanan.
kesentil aku mba heheheh sering nggak ngabisin tapi diabisin mas suami sih allhamdulillah. Sisa makanan dimakan ayam, untungnya pelihara ayam pak mertua. Aku udah sering liat kembangmanggis di Gramdig ku, tapi belum sempat baca. jadi penasaran
ReplyDeletePaling suka dengan buku yang berisikan beberapa cerpen dengan topik yang beragam. Biasanya seru-seru dan bikin kita gak bosan membacanya
ReplyDelete